sejarah psikologi abnormal

27 Jun

Sejarah Psikologi Abnormal

Zaman prasejarah

n  Kepercayaan yg berkembang : perilaku abnormal tjd krn serbuan roh jahat

n  Intervensi : trephination = melubangi tengkorak kepala utk membukakan jalan keluar bg roh jahat

800th sblm masehi

n  Keyakinan bhw kekuatan supranatural menggerakkan kemauan & spirit

n  Abnormalitas disebabkan krn pengaruh demon/setan (model demonologi)

n  Zaman Yunani kuno, orang yg berperilkau abnormal dikirim ke kuil utk berdoa kpd Aesculapius (Dewa Penyembuhan) dmn Aesculapius akan hadir dlm mimpi pasien melalui nasehat2

Hippocrates
(460-377 sblm Masehi)

n  Kesehatan tubuh & jiwa mrpkn hasil dr penyebab yg alami, yi keseimbangan cairan tubuh (humors)

n  Kelebihan lendir (phlegmatic) : org tdk bertenaga atau lambat

n  Kelebihan cairan empedu hitam (melancholia) : depresi

n  Kelebihan darah (sanguine) : ceria, PD, optimis

n  Kelebihan cairan empedu kuning (choleric) : cepat marah

n  Awal perkembangan model medis yg modern krn berdasar hasil proses biologis

Zaman Pertengahan

n  Kembali pd pandangan supranatural

n  Intervensi : exorcism (pengusiran roh jahat) à berdoa, mengayun2kan tanda salib di hadapan pasien, memukul, mencambuk, membuat lapar à tdk berhasil : dilakukan penyiksaan

Zaman Renaisans

n  Keyakinan bhw perilaku abnormal krn memiliki ilmu sihir

n  Intervensi : water float = barangsiapa ketika di tes mengapung di air walau dlm keadaan tangan terikat maka memiliki ilmu sihir à logika : orang normal tdk akan bisa mengapung

n  Fenomena kemiskinan & kesendirian?

 

 

Cont’d…..

n  Di Inggris : penyebab perilaku abnormal disebabkan sakit fisik atau trauma pd otak

n  Intervensi : dimasukkan RS sampai kembali normal

n  Dokter Belgia, Johann Weyer mengadopsi pemikiran Hippocrates

Gerakan Reformasi & Terapi Moral

n  Jean-Baptiste Pussin & Philippe Pinel memberi kontribusi pemikiran ttg intervensi gangguan abnormalitas dg cara manusiawi : dilepas dr rantai, memindahkan ke ruangan yg berventilasi

n  Dasar pemikiran : perawatan pasien dg kebaikan hati & suasana lingkungan yg mendukung akan membantu penyembuhan = terapi moral

Cont’d……

n  Benjamin Rush meyakini bahwa kegilaan disebabkan pembesaran pembuluh darah di otak à intervensi : mandi es yg dingin tp mendorong staf utk menangangi pasien dg kebaikan hati, rasa mengerti, dan penuh perhatian

Paruh terakhir abad XXIX

n  Periode apatisme bhw pola2 perilaku abnormal tdk dpt disembuhkan berkembang : pasien dikenakan berbagai peralatan (jaket pengikat, borgol, tali, tempat kurungan) agar aktivitasnya yg terlalu gembira atau berbahaya akan terbatas

1950

n  Populasi pasien RSJ meningkat à bangsal tdk memiliki sanitasi, sedikit perawatan profesional

n  Muncul seruan utk mereformasi sistem kesehatan mental

1963

n  Ditemukan suatu kelompok obat antipsikotik (phenotiazines) yg dpt membantu menekan pola2 perilaku paling menyolok terkait gangg. Skizofrenia à pasien memiliki kemungkinan utk hidup lebih bebas dlm komunitas & memiliki kehidupan yg mandiri

Refensi

n  Nevid, J.S., Rathus, S.A., dan Greene, Beverly. 2005. Psikologi Abnormal, Edisi kelima, Jilid satu. Tim Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (Penerjemah). Jakarta : Penerbit Erlangga

  1. PERSEPI YANG SALAH TENTANG ISTILAH ABNORMAL

 

  1. Perbedaan antara perilaku abnormal dan normal

Psikologi abnormal bersangkut-paut dengan tingkah laku abnormal. Pada hakekatnya, konsep tentang normalitas dan ab­normalitas itu sangat samar-samar batasnya. Sebab, kebiasaan­kebiasaan dan sikap hidup yang dirasakan sebagai normal oleh sesuatu kelompok masyarakat, dapat dianggap sebagai abnormal oleh kelompok kebudayaan lainnya. Apa yang dianggap sebagai abnormal oleh beberapa generasi sebelum kita, misalnya, dianggap sebagai normal pada saat ini.

Namun demikian, tingkah laku abnormal tadi kadang kali begitu mencolok dan berbeda dengan tingkah laku biasa pada umumnya, sehingga kita tidak akan ragu-ragu lagi untuk menye­butnya sebagai abnormal.

Tingkah laku normal

Sebagai standar dari tingkah laku yang normal kita ambil: tingkah laku yang adekuat (serasi, tepat), yang bisa diterima oleh masyarakat pada umumnya Tingkah laku pribadi yang nor­mal tersebut ialah:

sikap-hidupnya/attitude-nya sesuai dengan pola kelompok masyarakat tempat ia berada, sehingga tercapai satu relasi interpersonal dan intersosial yang memuaskan.

Di dalam masyarakat modern yang multi-kompleks pada zaman atom sekarang, banyak sekali terdapat persaingan-persaing­an hidup, dan tidak sedikit tuntutan-tuntutan yang serba kontra­diktif. Sehingga semuanya memperbanyak tumbuhnya tingkah laku abnormal, ketegangan-ketegangan emosi, konflik-konflik batin dan gangguan-gangguan mental; dari kasus yang sifatnya sangat ringan dan temporal pendek, sampai pada kasus yang ber­sifat serius dan lama. Sehingga si penderita perlu dirawat dalam rumah sakit; jadi ia memerlukan hospitalisasi.

Pribadi yang normal dan pribadi yang abnormal

Pribadi yang normal itu secara relatif dekat sekali dengan Integrasi jasmaniah-rokhaniah yang ideal; kehidupan psikis­nya kurang lebih stabil sifatnya, tidak banyak memendam konflik-konflik batin; tenang, dan jasmaniahnya sehat selalu.

 

 

Pribadi yang abnormal mempunyai atribut: secara relatif mereku Itu jauh daripada status integrasi. Ada tingkat atribut “Inferior” dun “superior”.

Kompleks-kompleks inferor ini misalnya terdapat pada pen­derita psikopat, neurosa dan psikosa. Dan kompleks-kompleks superior itu terdapat pada kelompok kaum Idiot savant (kaum ilmuwan/cerdik pandai yang bersifat idiot). Mereka itu mem­punyai quotient intelegensi (I.Q.) yang tinggi, dan memiliki bakat-bakat khusus yang luar biasa; misalnya di bidang semi, musik, matematik, teknik, ilmu pengetahuan alum, ketrampil­an tangan dll. Akan tetapi mereka menderita defek atau defi­siensi mental secara total, sehingga tingkah lakunya aneh-aneh, kejam-sadistis atau sangat abnormal.

Pribadi yang abnormal pada umumnya dihinggapi gangguan mental, atau ada kelainan-kelainan/abnormalitas pada mental­nya. Orang-orang abnormal ini selalu diliputi banyak konflik­-konflik batin, miskin jiwanya dan tidak stabil, tanpa perhatian pada lingkungannya, terpisah hidupnya dari masyarakat, selalu gelisah dan takut; dan jasmaninya sering sakit-sakitan.

Meninjau arti ABNORMALITAS dari beberapa segi, yaitu segi patologis, statistik dan segi kultural/budaya.

  1. 1.        Abnormal dipandang dari segi patologis

Dipandang dari segi patologis, tingkah laku abnormal itu adalah:

       akibat suatu kecelakaan, suatu penyakit, atau status kepribadian yang kacau (disordered state), yang kita jumpai pada penderita-penderita simptom klinis tertentu. Misalnya ada banyak unsur ketakutan dan kecemasan khronis yang tidak beralasan pada penderita psikoneurosa; gejala delusi, ilusi dan halusinasi [1]) pada psikosa; juga tingkah­laku anti-sosial pada pribadi yang sosiopatik.

Bertolak dari pengertian ini, kita dapat mengatakan: pribadi normal itu tidak memiliki simptom-simptom klinis tersebut di atas pada hakekatnya tidak ada seorang juga di dunia ini yang terbebas sama sekali dari simptom-simptom tersebut; khususnya dalam masa-masa yang kritis dan saat-saat depresi sosial ekonomi.

 

 

Maka simptom-simptom tertentu dan syndrome-syndrome (sekumpulan kompleks simptom-simptom yang berat dan saling berkaitan) itu merupakan tanda-tanda yang tidak dapat disangkal lagi dari pribadi-pribadi yang menderita penyakit mental. Selanjutnya   dapatdikatakan, orang-orang yang menunjukkan atau me­miliki simptom-simptom klinis tersebut dapat dianggap sebagai abnormal.

 

  1. 2.        Abnormal dipandang dari segi Statistik

Merupakan pendekatan secara grafis (tertulis dan gambaran) dan secara matematis mengenai masalah siapakah yang disebut normal dan abnormal itu.

 

 

 

Kurve distribusi normal pada gambar di halaman depan menunjukkan konsep statistik tentang orang-orang normal dan yang tidak normal. Gambar tersebut membuktikan, bahwa subyeknya lebih banyak terdapat/berkumpul di tengah-tengah kurve. Jodi su­byek yang normal itu lebih banyak terdapat di sini. Dan kasus di sebelah-menyebelah pertengahan kurve merupakan jumlah abnormalitas, Menurut konvensi statistik tersebut, “range normal” yang terdapat pada bagian tengah kurve tersebut meliputi kurang lebih 2/3 (duapertiga) dari jumlah kelompok tersebut.

  1. 3.        Abnormal dipandang dari segi kultural/kebudayaan

Dari segi pandangan ini, tingkah laku dan sikap hidup se­seorang dianggap sebagai normal atau abnormal bergantung pada milieu sosial atau lingkungan kebudayaan tempat tinggal orang tersebut.

Masyarakat itu merupakan hakim yang “keras” dan kejam” terhadap tingkah laku para anggotanya; dan cenderung tidak mentolerir tingkah laku yang menyimpang dari norma umum yang ada. Kebebasan bertindak dalam batas yang rasional dari para anggotanya, banyak diberikan pada perorangan agar mereka bisa berekspresi secara bebas. Tetapi penyimpangan yang bersifat radikal dan bisa menyebabkan kekacauan pada perorangan dan lingkungannya, sangat dikecam. Dan orang tersebut dianggap sebagai pribadi yang abnormal.

 

Pada saat sekarang, ada 2 faktor yang berpengaruh pada situasi penghakiman tersebut.

Pertama, kelompok masyarakat: dalam masyarakat dunia sekarang dengan banyaknya perjumpaan dan percampuran polo-polo ke­budayaan, Bering terjadi bahwa suatu adat kebiasaan dan norma­norma hidup dianggap sebagai normal oleh suatu kelompok masyarakat, namun oleh kelompok masyarakat lainnya dianggap sebagai abnormal.

Kedua, Zeitgeist (jiwa dari zaman): spa yang dianggap sebagai abnormal beberapa ratus tahun yang lalu oleh generasi-generasi nenek moyang kita, mungkin bisa diterima oleh masyarakat modern. sekarang.

Perubahan-perubahan dalam relasi kemanusiaan itu kadang­kadang berjalan lambat; tapi di saat lain dan di tempat lain justru bisa berlangsung secara meteorik, dan radikal revolusioner, cepat sekali. Oleh karena itu pengaruh dari kedua faktor tersebut di atas, dan bersama-sama dengan tekanan masyarakat secara langsung (dengan norma-norma dan sanksi sosialnya), semuanya ikut me­nentukan kriteria apakah seseorang dapat digolongkan dalam ke­lompok normal ataukah abnormal.

  1. 4.        Kriteria pribadi yang normal

Deskripsi tentang pribadi yang normal dengan mental yang sehat dituliskan dalam satu daftar kriteria oleh Maslow and Mit­telmann dalam bukunya “Principles of Abnormal Psychology”, yang kami kutip antara lain sebagai berikut:

1)        Memiliki perasaan aman (sense of security) yang tepat. Dalam suasana sedemikian dia mampu mengadakan kontak yang lancar dengan orang lain dalam bidang kerja, di lapangan sosial/pergaulan, dan dalam lingkungan keluarga.

2)        Memiliki penilaian diri (self evaluation) dan iniight/wawasan rasional. Jugs punya harga-diri yang cukup, dan tidak berkele­bihan. Memiliki perasaan sehat secara moril, tanpa ada rasa-rasa berdosa. Dan memiliki kemampuan untuk menilai tingkah laku manusia lain yang tidak sosial dan tidak human sebagai fenomena masyarakat yang “menyimpang”.

 

3)        Memiliki spontanitas dan emosionalitas yang tepat. Ia mampu menciptakan hubungan yang erat, kuat, dan lama; seperti persahabatan, komunikasi sosial, dan relasi cinta. Dia mampu mengekspresikan rasa kebencian dan kekesalan hatinya tanpa kehilangan kontrol terhadap diri sendiri. Ia memiliki kesang­gupan untuk ikut merasa dan ikut mengerti pengalaman serta perasaan orang lain. Ia bisa bergembira dan bisa tertawa. Ia mampu menghayati arti penderitaan dan kebahagiaan, tanpa lupa diri.

4)        Mempunyai kontak dengan relitas secara efisien.

Yaitu kontak dengan dunia. fisik/materiil, tanpa ada fantasi dan angan-angan yang berlebihan. Ia punya kontak dengan dunia sosial, karena memiliki pandangan hidup yang realistic dan cukup luas tentang dunia manusia. Ia memiliki kemampu­an untuk menerima macam-macam cobaan hidup dan shock/ kejutan-kejutan hidup dengan rasa besar hati; seperti sakit, fitnah, mala petaka, duka-nestapa dan nasib-nasib buruk lain­nya.

Selanjutnya, ia memiliki kontak yang rill dan efisien dengan diri pribadinya (internal world). Dan memiliki kemam­puan untuk mengadakan adaptasi, merubah, dan mengasimi­lasikan diri, jika lingkungan sosial dan dunia external tidak dapat diubahnya.

Dia bisa mengadakan “cooperation with the inevitable”, yaitu bisa mengadakan kooperasi dengan keadaan yang tidak bisa ditolaknya.

5)        Dia memiliki dorongan-dorongan dan nafsu-nafsu jasmaniah yang sehat, serta memiliki kemampuan untuk memenuhi dan memuaskannya. Ada attitude yang sehat untuk memenuhi dan memuaskannya. Ada sikap yang sehat terhadap tuntut­an-tuntutan fungsi-fungsi jasmani tersebut, dan la mampu me­menuhinya; akan tetapi dia tidak diperbudak oleh dorongan dan nafsu-nafsu tersebut.

Ada kemampuan untuk dapat menikmati kesenangan hidup, yaitu menikmati bends-bends dan pengalaman-pe­ngalaman fisik (makan, tidur, rekreasi); dan bisa cepat pulih dari kelelahan. Dia memiliki nafsu-nafsu seks yang cukup sehat, serta ada kemampuan untuk memenuhi kebutuhan seks tersebut tanpa dibarengi oleh rasa-rasa takut dan berdosa; dan tidak pula berlebih-lebihan. Ada kemampuan dan gairah untuk bekerja, tanpa dorongan yang berlebih-lebihan; dan ia tahan menghadapi kegagalan-kegagalan, kerugian-kerugian dan ke­malangan.

6)        Mempunyai pengetahuan diri yang cukup; antara lain bisa menghayati motif-motif hidupnya dalam status radar. la menyadari nafsu-nafsu dan hasratnya, cita-cita dan tujuan hidupnya yang realistis, dan bisa membatasi ambisi-ambisi dalam batas-batas kenormalan. Juga tahu menanggapi segala pantangan-pantangan pribadi dan pantangan-pantangan sosial. Dia bisa melakukan kompensasi yang bersifat positif, mampu menghindari defence mechanism [2]) sejauh mungkin, dan bisa menyalurkan rasa infefiornya

7)        Mempunyai tujuan/obyek hidup yang adekuat.

Dalam artian, tujuan hidup tersebut bisa dicapai dengan kemampuan sendiri, sebab sifatnya realistis dan wajar. Ditambah ia mempunyai keuletan untuk mencapai tujuan hidupnya. Tujuan hidup cukup jelas dan realistis, sedang aktivitas/per­buatannya berefek baik serta bermanfaat bagi masyarakat.

8)        Memiliki kemampuan untuk belajar dari pengalaman hidupnya.

Yaitu ada kemampuan menerima dan mengolah pengalamannya tidak secara kaku. Juga ada kesanggupan belajar secara spontan, serta bisa mengadakan evaluasi terhadap kekuatan sendiri dan situasi yang dihadapinya, agar supaya is sukses. la akan menghindari metode-metode pelarian dirilescape mecha­nism yang keliru, dan memperbaiki metode kerjanya guns mencapai sukses yang lebih besar.

9)        Ada kesanggupan untuk meniuaskan tuntutan-tuntutan dan kebutuhan-kebutuhan dari kelompoknya tempat dia berada. Sebabnya: dia tidak terlalu berbeda dari anggota kelompok lainnya (tidak terlampau menyimpang). Dia bisa mengikuti adat, tata-cara, dan norma-norma dari kelompok atau group­nya.

Dia mau dan mampu mengekang nafsu-nafsu serta ke­inginan-keinginan yang dianggap sebagai tabu dan larangan oleh kelompoknya. Lagi pula, dia mampu memperlihatkan dan melaksanakan aktivitas-aktivitas yang fundamental dari ambisi kelompoknya, dengan menunjukkan keajegan dalam bersikap persahabatan, rasa taggung jawab yang tebal, loyalitas, mampu melakukan aktivitas rekreasi yang sehat dan lain-lain.

10)    Ada sikap emansipasi yang sehat terhadap kelompoknya dan terhadap kebudayaan. Namun demikian dia masih tetap me­miliki originalitas (keaslian) sertaindividualitas yang khan; dan bisa membedakan antara perbuatan buruk dan yang baik. Dia menyadari adanya kebebasan yang terbatas untuk beropini/ berpendapat di dalam kelompoknya. Tanpa memiliki kesom­bongan, sifat munafik, dan mencari muka; tanpa ada hasrat untuk mendesakkan/menampilkan diri terlampau ke depan. Lagi pula, dia memiliki derajat toleransi dan apresiasi yang cukup besar terhadap kebudayaan bangsa.

11)    Ada integrasi dalam kepribadiannya.

Ada perkembangan dan pertumbuhan jasmani – rokhani yang bulat. Dia bisa mengadakan asimilasi dan adaptasi terhadap perubahan sosial, dan mempunyai minat/interesse terhadap macam-macam aktivitas.

Di samping itu dia memiliki moralitas dan kesadaran yang tidak kaku; sifatnya flexible terhadap group dan masyarakat­nya. Ada kemampuan untuk mengadakan konsentrasi terhadap satu usaha. Dan tidak ada konflik-konflik yang serius di dalam dirinya sendiri; serta tanpa diganggu dissosiasi terhadap ling­kungan sosialnya.

Kriteria-kriteria tersebut di atas merupakan ukuran ideal. Dalam pengertian: merupakan standar yang relatif tinggi sifatnya. Seorang yang normal itu tidak bisa diharapkan memenuhi dengan mutlak kriteria tersebut di atas (dia tidak bisa secara absolut sempurna memenuhi ukuran itu). Sebab pada umumnya setiap manusia normal pasti memiliki kekurangan-kekurangan dalam beberapa segi kepribadian. Namun demikian dia tetap memiliki kesehatan mental yang cukup baik, sehingga bias digolongkan dalam klas normal.

Maka, jika seseorang itu terlampau jauh menyimpang dari criteria tersebut diatas, dan banyak segi-segi karakteristiknya yang efesien/defisiensi (rusak, tidak efesien), maka pribadi tersebut kita golongkan dalam kelompok ABNORMAL.

 

  1. Abnormal adalah

Pribadi yang abnormal pada umumnya dihinggapi gangguan mental, atau ada kelainan-kelainan/abnormalitas pada mental­nya. Orang-orang abnormal ini selalu diliputi banyak konflik­-konflik batin, miskin jiwanya dan tidak stabil, tanpa perhatian pada lingkungannya, terpisah hidupnya dari masyarakat, selalu gelisah dan takut; dan jasmaninya sering sakit-sakitan.

  1. DSM adalah
  2. Saat ini Kita gunakan DSM ke IV
  3. aksis yang ada di DSM ke IV

aksis I    : semua kategori diagnostik kecuali ganguan kepribadian dan retardasi mental

akis II     : ganguan kepribadian dan retardasi mental

aksis III : kondisi medis umum

aksis IV : masalah psikososial dan lingkungan

  1. tujuan pembuatan aksis
  2. isi aksis

 

  1. GAF SCALE

dia Penilaian Global Berfungsi (GAF) adalah skala numerik (0 sampai 100) yang digunakan oleh dokter kesehatan mental dan dokter untuk menilai subyektif fungsi sosial, pekerjaan, dan psikologis orang dewasa, misalnya, seberapa baik atau adaptif satu pertemuan berbagai masalah-dalam-hidup. Skala ini disajikan dan dijelaskan dalam DSM-IV-TR pada halaman 34. Skor tersebut sering diberikan sebagai suatu range, seperti diuraikan di bawah ini:

 

91 – 100 berfungsi Unggul dalam berbagai kegiatan, masalah hidup sepertinya tidak pernah keluar dari tangan, dicari oleh orang lain karena-nya atau banyak kualitas nya positif. Tidak ada gejala.

 

81 – 90 gejala Absen atau minimal (misalnya, kecemasan ringan sebelum ujian), berfungsi baik di semua bidang, tertarik dan terlibat dalam berbagai kegiatan, sosial yang efektif, umumnya puas dengan kehidupan, tidak lebih dari masalah sehari-hari atau masalah (misalnya , argumen sesekali dengan anggota keluarga).

 71 – 80 Jika gejala yang hadir, mereka bersifat sementara dan diharapkan juga reaksi terhadap stresor psikososial (misalnya, sulit berkonsentrasi setelah pertengkaran keluarga); tidak lebih dari penurunan sedikit dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau sekolah (misalnya, sementara tertinggal dalam sekolah).

61 – 70 Beberapa gejala ringan (misalnya, perasaan depresi dan insomnia ringan) ATAU beberapa kesulitan dalam sosial, fungsi kerja, atau sekolah (misalnya, bolos sesekali, atau pencurian dalam rumah tangga), tetapi umumnya berfungsi cukup baik, memiliki beberapa hubungan interpersonal yang bermakna .

 51 – 60 gejala Sedang (misalnya, mempengaruhi datar dan berbicara langsung, serangan panik sesekali) ATAU kesulitan moderat dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau sekolah (misalnya, beberapa teman, konflik dengan teman sebaya atau rekan kerja).

41 – 50 gejala Berat (misalnya, keinginan bunuh diri, ritual obsesional parah, mengutil sering) ATAU setiap gangguan yang serius dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau sekolah (misalnya, tidak ada teman, tidak mampu mempertahankan pekerjaan).

 31 – 40 kerusakan Beberapa dalam pengujian realitas atau komunikasi (misalnya, bicara pada waktu yang tidak logis, jelas, atau tidak relevan) ATAU penurunan besar di beberapa daerah, seperti pekerjaan atau sekolah, hubungan keluarga, penilaian, berpikir, atau suasana hati (misalnya, depresi menghindari teman pria, mengabaikan keluarga, dan tidak mampu bekerja; anak sering memukuli anak-anak muda, adalah pemberontak di rumah, dan gagal di sekolah).

 

21 – 30 Perilaku sangat dipengaruhi oleh delusi atau halusinasi ATAU gangguan yang serius, dalam komunikasi atau penilaian (misalnya, kadang-kadang membingungkan, bertindak terlalu tidak tepat, keasyikan bunuh diri) ATAU ketidakmampuan untuk berfungsi dalam hampir semua bidang (misalnya, tetap di tempat tidur sepanjang hari, tidak ada pekerjaan, rumah, atau teman)

    11 – 20 Beberapa bahaya menyakiti diri sendiri atau orang lain (misalnya, bunuh diri mencoba tanpa harapan yang jelas kematian; seringkali kekerasan; kegembiraan manik) ATAU sesekali gagal untuk menjaga kebersihan pribadi minimal (misalnya, kotorannya) ATAU penurunan kotor dalam komunikasi (misalnya, sebagian besar tidak koheren atau bisu).

 1 – 10 bahaya Persistent sangat menyakiti diri sendiri atau orang lain (misalnya, kekerasan berulang) ATAU ketidakmampuan gigih untuk menjaga kebersihan pribadi minim tindakan bunuh diri ATAU serius dengan harapan yang jelas tentang kematian.

0 Informasi yang inadekuat

 

 

 


 

 

Sejarah Psikologi Abnormal

Zaman prasejarah

n  Kepercayaan yg berkembang : perilaku abnormal tjd krn serbuan roh jahat

n  Intervensi : trephination = melubangi tengkorak kepala utk membukakan jalan keluar bg roh jahat

800th sblm masehi

n  Keyakinan bhw kekuatan supranatural menggerakkan kemauan & spirit

n  Abnormalitas disebabkan krn pengaruh demon/setan (model demonologi)

n  Zaman Yunani kuno, orang yg berperilkau abnormal dikirim ke kuil utk berdoa kpd Aesculapius (Dewa Penyembuhan) dmn Aesculapius akan hadir dlm mimpi pasien melalui nasehat2

Hippocrates
(460-377 sblm Masehi)

n  Kesehatan tubuh & jiwa mrpkn hasil dr penyebab yg alami, yi keseimbangan cairan tubuh (humors)

n  Kelebihan lendir (phlegmatic) : org tdk bertenaga atau lambat

n  Kelebihan cairan empedu hitam (melancholia) : depresi

n  Kelebihan darah (sanguine) : ceria, PD, optimis

n  Kelebihan cairan empedu kuning (choleric) : cepat marah

n  Awal perkembangan model medis yg modern krn berdasar hasil proses biologis

Zaman Pertengahan

n  Kembali pd pandangan supranatural

n  Intervensi : exorcism (pengusiran roh jahat) à berdoa, mengayun2kan tanda salib di hadapan pasien, memukul, mencambuk, membuat lapar à tdk berhasil : dilakukan penyiksaan

Zaman Renaisans

n  Keyakinan bhw perilaku abnormal krn memiliki ilmu sihir

n  Intervensi : water float = barangsiapa ketika di tes mengapung di air walau dlm keadaan tangan terikat maka memiliki ilmu sihir à logika : orang normal tdk akan bisa mengapung

n  Fenomena kemiskinan & kesendirian?

 

 

Cont’d…..

n  Di Inggris : penyebab perilaku abnormal disebabkan sakit fisik atau trauma pd otak

n  Intervensi : dimasukkan RS sampai kembali normal

n  Dokter Belgia, Johann Weyer mengadopsi pemikiran Hippocrates

Gerakan Reformasi & Terapi Moral

n  Jean-Baptiste Pussin & Philippe Pinel memberi kontribusi pemikiran ttg intervensi gangguan abnormalitas dg cara manusiawi : dilepas dr rantai, memindahkan ke ruangan yg berventilasi

n  Dasar pemikiran : perawatan pasien dg kebaikan hati & suasana lingkungan yg mendukung akan membantu penyembuhan = terapi moral

Cont’d……

n  Benjamin Rush meyakini bahwa kegilaan disebabkan pembesaran pembuluh darah di otak à intervensi : mandi es yg dingin tp mendorong staf utk menangangi pasien dg kebaikan hati, rasa mengerti, dan penuh perhatian

Paruh terakhir abad XXIX

n  Periode apatisme bhw pola2 perilaku abnormal tdk dpt disembuhkan berkembang : pasien dikenakan berbagai peralatan (jaket pengikat, borgol, tali, tempat kurungan) agar aktivitasnya yg terlalu gembira atau berbahaya akan terbatas

1950

n  Populasi pasien RSJ meningkat à bangsal tdk memiliki sanitasi, sedikit perawatan profesional

n  Muncul seruan utk mereformasi sistem kesehatan mental

1963

n  Ditemukan suatu kelompok obat antipsikotik (phenotiazines) yg dpt membantu menekan pola2 perilaku paling menyolok terkait gangg. Skizofrenia à pasien memiliki kemungkinan utk hidup lebih bebas dlm komunitas & memiliki kehidupan yg mandiri

Refensi

n  Nevid, J.S., Rathus, S.A., dan Greene, Beverly. 2005. Psikologi Abnormal, Edisi kelima, Jilid satu. Tim Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (Penerjemah). Jakarta : Penerbit Erlangga

  1. PERSEPI YANG SALAH TENTANG ISTILAH ABNORMAL

 

  1. Perbedaan antara perilaku abnormal dan normal

Psikologi abnormal bersangkut-paut dengan tingkah laku abnormal. Pada hakekatnya, konsep tentang normalitas dan ab­normalitas itu sangat samar-samar batasnya. Sebab, kebiasaan­kebiasaan dan sikap hidup yang dirasakan sebagai normal oleh sesuatu kelompok masyarakat, dapat dianggap sebagai abnormal oleh kelompok kebudayaan lainnya. Apa yang dianggap sebagai abnormal oleh beberapa generasi sebelum kita, misalnya, dianggap sebagai normal pada saat ini.

Namun demikian, tingkah laku abnormal tadi kadang kali begitu mencolok dan berbeda dengan tingkah laku biasa pada umumnya, sehingga kita tidak akan ragu-ragu lagi untuk menye­butnya sebagai abnormal.

Tingkah laku normal

Sebagai standar dari tingkah laku yang normal kita ambil: tingkah laku yang adekuat (serasi, tepat), yang bisa diterima oleh masyarakat pada umumnya Tingkah laku pribadi yang nor­mal tersebut ialah:

sikap-hidupnya/attitude-nya sesuai dengan pola kelompok masyarakat tempat ia berada, sehingga tercapai satu relasi interpersonal dan intersosial yang memuaskan.

Di dalam masyarakat modern yang multi-kompleks pada zaman atom sekarang, banyak sekali terdapat persaingan-persaing­an hidup, dan tidak sedikit tuntutan-tuntutan yang serba kontra­diktif. Sehingga semuanya memperbanyak tumbuhnya tingkah laku abnormal, ketegangan-ketegangan emosi, konflik-konflik batin dan gangguan-gangguan mental; dari kasus yang sifatnya sangat ringan dan temporal pendek, sampai pada kasus yang ber­sifat serius dan lama. Sehingga si penderita perlu dirawat dalam rumah sakit; jadi ia memerlukan hospitalisasi.

Pribadi yang normal dan pribadi yang abnormal

Pribadi yang normal itu secara relatif dekat sekali dengan Integrasi jasmaniah-rokhaniah yang ideal; kehidupan psikis­nya kurang lebih stabil sifatnya, tidak banyak memendam konflik-konflik batin; tenang, dan jasmaniahnya sehat selalu.

 

 

Pribadi yang abnormal mempunyai atribut: secara relatif mereku Itu jauh daripada status integrasi. Ada tingkat atribut “Inferior” dun “superior”.

Kompleks-kompleks inferor ini misalnya terdapat pada pen­derita psikopat, neurosa dan psikosa. Dan kompleks-kompleks superior itu terdapat pada kelompok kaum Idiot savant (kaum ilmuwan/cerdik pandai yang bersifat idiot). Mereka itu mem­punyai quotient intelegensi (I.Q.) yang tinggi, dan memiliki bakat-bakat khusus yang luar biasa; misalnya di bidang semi, musik, matematik, teknik, ilmu pengetahuan alum, ketrampil­an tangan dll. Akan tetapi mereka menderita defek atau defi­siensi mental secara total, sehingga tingkah lakunya aneh-aneh, kejam-sadistis atau sangat abnormal.

Pribadi yang abnormal pada umumnya dihinggapi gangguan mental, atau ada kelainan-kelainan/abnormalitas pada mental­nya. Orang-orang abnormal ini selalu diliputi banyak konflik­-konflik batin, miskin jiwanya dan tidak stabil, tanpa perhatian pada lingkungannya, terpisah hidupnya dari masyarakat, selalu gelisah dan takut; dan jasmaninya sering sakit-sakitan.

Meninjau arti ABNORMALITAS dari beberapa segi, yaitu segi patologis, statistik dan segi kultural/budaya.

  1. 1.        Abnormal dipandang dari segi patologis

Dipandang dari segi patologis, tingkah laku abnormal itu adalah:

       akibat suatu kecelakaan, suatu penyakit, atau status kepribadian yang kacau (disordered state), yang kita jumpai pada penderita-penderita simptom klinis tertentu. Misalnya ada banyak unsur ketakutan dan kecemasan khronis yang tidak beralasan pada penderita psikoneurosa; gejala delusi, ilusi dan halusinasi [1]) pada psikosa; juga tingkah­laku anti-sosial pada pribadi yang sosiopatik.

Bertolak dari pengertian ini, kita dapat mengatakan: pribadi normal itu tidak memiliki simptom-simptom klinis tersebut di atas pada hakekatnya tidak ada seorang juga di dunia ini yang terbebas sama sekali dari simptom-simptom tersebut; khususnya dalam masa-masa yang kritis dan saat-saat depresi sosial ekonomi.

 

 

Maka simptom-simptom tertentu dan syndrome-syndrome (sekumpulan kompleks simptom-simptom yang berat dan saling berkaitan) itu merupakan tanda-tanda yang tidak dapat disangkal lagi dari pribadi-pribadi yang menderita penyakit mental. Selanjutnya   dapatdikatakan, orang-orang yang menunjukkan atau me­miliki simptom-simptom klinis tersebut dapat dianggap sebagai abnormal.

 

  1. 2.        Abnormal dipandang dari segi Statistik

Merupakan pendekatan secara grafis (tertulis dan gambaran) dan secara matematis mengenai masalah siapakah yang disebut normal dan abnormal itu.

 

 

 

Kurve distribusi normal pada gambar di halaman depan menunjukkan konsep statistik tentang orang-orang normal dan yang tidak normal. Gambar tersebut membuktikan, bahwa subyeknya lebih banyak terdapat/berkumpul di tengah-tengah kurve. Jodi su­byek yang normal itu lebih banyak terdapat di sini. Dan kasus di sebelah-menyebelah pertengahan kurve merupakan jumlah abnormalitas, Menurut konvensi statistik tersebut, “range normal” yang terdapat pada bagian tengah kurve tersebut meliputi kurang lebih 2/3 (duapertiga) dari jumlah kelompok tersebut.

  1. 3.        Abnormal dipandang dari segi kultural/kebudayaan

Dari segi pandangan ini, tingkah laku dan sikap hidup se­seorang dianggap sebagai normal atau abnormal bergantung pada milieu sosial atau lingkungan kebudayaan tempat tinggal orang tersebut.

Masyarakat itu merupakan hakim yang “keras” dan kejam” terhadap tingkah laku para anggotanya; dan cenderung tidak mentolerir tingkah laku yang menyimpang dari norma umum yang ada. Kebebasan bertindak dalam batas yang rasional dari para anggotanya, banyak diberikan pada perorangan agar mereka bisa berekspresi secara bebas. Tetapi penyimpangan yang bersifat radikal dan bisa menyebabkan kekacauan pada perorangan dan lingkungannya, sangat dikecam. Dan orang tersebut dianggap sebagai pribadi yang abnormal.

 

Pada saat sekarang, ada 2 faktor yang berpengaruh pada situasi penghakiman tersebut.

Pertama, kelompok masyarakat: dalam masyarakat dunia sekarang dengan banyaknya perjumpaan dan percampuran polo-polo ke­budayaan, Bering terjadi bahwa suatu adat kebiasaan dan norma­norma hidup dianggap sebagai normal oleh suatu kelompok masyarakat, namun oleh kelompok masyarakat lainnya dianggap sebagai abnormal.

Kedua, Zeitgeist (jiwa dari zaman): spa yang dianggap sebagai abnormal beberapa ratus tahun yang lalu oleh generasi-generasi nenek moyang kita, mungkin bisa diterima oleh masyarakat modern. sekarang.

Perubahan-perubahan dalam relasi kemanusiaan itu kadang­kadang berjalan lambat; tapi di saat lain dan di tempat lain justru bisa berlangsung secara meteorik, dan radikal revolusioner, cepat sekali. Oleh karena itu pengaruh dari kedua faktor tersebut di atas, dan bersama-sama dengan tekanan masyarakat secara langsung (dengan norma-norma dan sanksi sosialnya), semuanya ikut me­nentukan kriteria apakah seseorang dapat digolongkan dalam ke­lompok normal ataukah abnormal.

  1. 4.        Kriteria pribadi yang normal

Deskripsi tentang pribadi yang normal dengan mental yang sehat dituliskan dalam satu daftar kriteria oleh Maslow and Mit­telmann dalam bukunya “Principles of Abnormal Psychology”, yang kami kutip antara lain sebagai berikut:

1)        Memiliki perasaan aman (sense of security) yang tepat. Dalam suasana sedemikian dia mampu mengadakan kontak yang lancar dengan orang lain dalam bidang kerja, di lapangan sosial/pergaulan, dan dalam lingkungan keluarga.

2)        Memiliki penilaian diri (self evaluation) dan iniight/wawasan rasional. Jugs punya harga-diri yang cukup, dan tidak berkele­bihan. Memiliki perasaan sehat secara moril, tanpa ada rasa-rasa berdosa. Dan memiliki kemampuan untuk menilai tingkah laku manusia lain yang tidak sosial dan tidak human sebagai fenomena masyarakat yang “menyimpang”.

 

3)        Memiliki spontanitas dan emosionalitas yang tepat. Ia mampu menciptakan hubungan yang erat, kuat, dan lama; seperti persahabatan, komunikasi sosial, dan relasi cinta. Dia mampu mengekspresikan rasa kebencian dan kekesalan hatinya tanpa kehilangan kontrol terhadap diri sendiri. Ia memiliki kesang­gupan untuk ikut merasa dan ikut mengerti pengalaman serta perasaan orang lain. Ia bisa bergembira dan bisa tertawa. Ia mampu menghayati arti penderitaan dan kebahagiaan, tanpa lupa diri.

4)        Mempunyai kontak dengan relitas secara efisien.

Yaitu kontak dengan dunia. fisik/materiil, tanpa ada fantasi dan angan-angan yang berlebihan. Ia punya kontak dengan dunia sosial, karena memiliki pandangan hidup yang realistic dan cukup luas tentang dunia manusia. Ia memiliki kemampu­an untuk menerima macam-macam cobaan hidup dan shock/ kejutan-kejutan hidup dengan rasa besar hati; seperti sakit, fitnah, mala petaka, duka-nestapa dan nasib-nasib buruk lain­nya.

Selanjutnya, ia memiliki kontak yang rill dan efisien dengan diri pribadinya (internal world). Dan memiliki kemam­puan untuk mengadakan adaptasi, merubah, dan mengasimi­lasikan diri, jika lingkungan sosial dan dunia external tidak dapat diubahnya.

Dia bisa mengadakan “cooperation with the inevitable”, yaitu bisa mengadakan kooperasi dengan keadaan yang tidak bisa ditolaknya.

5)        Dia memiliki dorongan-dorongan dan nafsu-nafsu jasmaniah yang sehat, serta memiliki kemampuan untuk memenuhi dan memuaskannya. Ada attitude yang sehat untuk memenuhi dan memuaskannya. Ada sikap yang sehat terhadap tuntut­an-tuntutan fungsi-fungsi jasmani tersebut, dan la mampu me­menuhinya; akan tetapi dia tidak diperbudak oleh dorongan dan nafsu-nafsu tersebut.

Ada kemampuan untuk dapat menikmati kesenangan hidup, yaitu menikmati bends-bends dan pengalaman-pe­ngalaman fisik (makan, tidur, rekreasi); dan bisa cepat pulih dari kelelahan. Dia memiliki nafsu-nafsu seks yang cukup sehat, serta ada kemampuan untuk memenuhi kebutuhan seks tersebut tanpa dibarengi oleh rasa-rasa takut dan berdosa; dan tidak pula berlebih-lebihan. Ada kemampuan dan gairah untuk bekerja, tanpa dorongan yang berlebih-lebihan; dan ia tahan menghadapi kegagalan-kegagalan, kerugian-kerugian dan ke­malangan.

6)        Mempunyai pengetahuan diri yang cukup; antara lain bisa menghayati motif-motif hidupnya dalam status radar. la menyadari nafsu-nafsu dan hasratnya, cita-cita dan tujuan hidupnya yang realistis, dan bisa membatasi ambisi-ambisi dalam batas-batas kenormalan. Juga tahu menanggapi segala pantangan-pantangan pribadi dan pantangan-pantangan sosial. Dia bisa melakukan kompensasi yang bersifat positif, mampu menghindari defence mechanism [2]) sejauh mungkin, dan bisa menyalurkan rasa infefiornya

7)        Mempunyai tujuan/obyek hidup yang adekuat.

Dalam artian, tujuan hidup tersebut bisa dicapai dengan kemampuan sendiri, sebab sifatnya realistis dan wajar. Ditambah ia mempunyai keuletan untuk mencapai tujuan hidupnya. Tujuan hidup cukup jelas dan realistis, sedang aktivitas/per­buatannya berefek baik serta bermanfaat bagi masyarakat.

8)        Memiliki kemampuan untuk belajar dari pengalaman hidupnya.

Yaitu ada kemampuan menerima dan mengolah pengalamannya tidak secara kaku. Juga ada kesanggupan belajar secara spontan, serta bisa mengadakan evaluasi terhadap kekuatan sendiri dan situasi yang dihadapinya, agar supaya is sukses. la akan menghindari metode-metode pelarian dirilescape mecha­nism yang keliru, dan memperbaiki metode kerjanya guns mencapai sukses yang lebih besar.

9)        Ada kesanggupan untuk meniuaskan tuntutan-tuntutan dan kebutuhan-kebutuhan dari kelompoknya tempat dia berada. Sebabnya: dia tidak terlalu berbeda dari anggota kelompok lainnya (tidak terlampau menyimpang). Dia bisa mengikuti adat, tata-cara, dan norma-norma dari kelompok atau group­nya.

Dia mau dan mampu mengekang nafsu-nafsu serta ke­inginan-keinginan yang dianggap sebagai tabu dan larangan oleh kelompoknya. Lagi pula, dia mampu memperlihatkan dan melaksanakan aktivitas-aktivitas yang fundamental dari ambisi kelompoknya, dengan menunjukkan keajegan dalam bersikap persahabatan, rasa taggung jawab yang tebal, loyalitas, mampu melakukan aktivitas rekreasi yang sehat dan lain-lain.

10)    Ada sikap emansipasi yang sehat terhadap kelompoknya dan terhadap kebudayaan. Namun demikian dia masih tetap me­miliki originalitas (keaslian) sertaindividualitas yang khan; dan bisa membedakan antara perbuatan buruk dan yang baik. Dia menyadari adanya kebebasan yang terbatas untuk beropini/ berpendapat di dalam kelompoknya. Tanpa memiliki kesom­bongan, sifat munafik, dan mencari muka; tanpa ada hasrat untuk mendesakkan/menampilkan diri terlampau ke depan. Lagi pula, dia memiliki derajat toleransi dan apresiasi yang cukup besar terhadap kebudayaan bangsa.

11)    Ada integrasi dalam kepribadiannya.

Ada perkembangan dan pertumbuhan jasmani – rokhani yang bulat. Dia bisa mengadakan asimilasi dan adaptasi terhadap perubahan sosial, dan mempunyai minat/interesse terhadap macam-macam aktivitas.

Di samping itu dia memiliki moralitas dan kesadaran yang tidak kaku; sifatnya flexible terhadap group dan masyarakat­nya. Ada kemampuan untuk mengadakan konsentrasi terhadap satu usaha. Dan tidak ada konflik-konflik yang serius di dalam dirinya sendiri; serta tanpa diganggu dissosiasi terhadap ling­kungan sosialnya.

Kriteria-kriteria tersebut di atas merupakan ukuran ideal. Dalam pengertian: merupakan standar yang relatif tinggi sifatnya. Seorang yang normal itu tidak bisa diharapkan memenuhi dengan mutlak kriteria tersebut di atas (dia tidak bisa secara absolut sempurna memenuhi ukuran itu). Sebab pada umumnya setiap manusia normal pasti memiliki kekurangan-kekurangan dalam beberapa segi kepribadian. Namun demikian dia tetap memiliki kesehatan mental yang cukup baik, sehingga bias digolongkan dalam klas normal.

Maka, jika seseorang itu terlampau jauh menyimpang dari criteria tersebut diatas, dan banyak segi-segi karakteristiknya yang efesien/defisiensi (rusak, tidak efesien), maka pribadi tersebut kita golongkan dalam kelompok ABNORMAL.

 

  1. Abnormal adalah

Pribadi yang abnormal pada umumnya dihinggapi gangguan mental, atau ada kelainan-kelainan/abnormalitas pada mental­nya. Orang-orang abnormal ini selalu diliputi banyak konflik­-konflik batin, miskin jiwanya dan tidak stabil, tanpa perhatian pada lingkungannya, terpisah hidupnya dari masyarakat, selalu gelisah dan takut; dan jasmaninya sering sakit-sakitan.

  1. DSM adalah
  2. Saat ini Kita gunakan DSM ke IV
  3. aksis yang ada di DSM ke IV

aksis I    : semua kategori diagnostik kecuali ganguan kepribadian dan retardasi mental

akis II     : ganguan kepribadian dan retardasi mental

aksis III : kondisi medis umum

aksis IV : masalah psikososial dan lingkungan

  1. tujuan pembuatan aksis
  2. isi aksis

 

  1. GAF SCALE

dia Penilaian Global Berfungsi (GAF) adalah skala numerik (0 sampai 100) yang digunakan oleh dokter kesehatan mental dan dokter untuk menilai subyektif fungsi sosial, pekerjaan, dan psikologis orang dewasa, misalnya, seberapa baik atau adaptif satu pertemuan berbagai masalah-dalam-hidup. Skala ini disajikan dan dijelaskan dalam DSM-IV-TR pada halaman 34. Skor tersebut sering diberikan sebagai suatu range, seperti diuraikan di bawah ini:

 

91 – 100 berfungsi Unggul dalam berbagai kegiatan, masalah hidup sepertinya tidak pernah keluar dari tangan, dicari oleh orang lain karena-nya atau banyak kualitas nya positif. Tidak ada gejala.

 

81 – 90 gejala Absen atau minimal (misalnya, kecemasan ringan sebelum ujian), berfungsi baik di semua bidang, tertarik dan terlibat dalam berbagai kegiatan, sosial yang efektif, umumnya puas dengan kehidupan, tidak lebih dari masalah sehari-hari atau masalah (misalnya , argumen sesekali dengan anggota keluarga).

 71 – 80 Jika gejala yang hadir, mereka bersifat sementara dan diharapkan juga reaksi terhadap stresor psikososial (misalnya, sulit berkonsentrasi setelah pertengkaran keluarga); tidak lebih dari penurunan sedikit dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau sekolah (misalnya, sementara tertinggal dalam sekolah).

61 – 70 Beberapa gejala ringan (misalnya, perasaan depresi dan insomnia ringan) ATAU beberapa kesulitan dalam sosial, fungsi kerja, atau sekolah (misalnya, bolos sesekali, atau pencurian dalam rumah tangga), tetapi umumnya berfungsi cukup baik, memiliki beberapa hubungan interpersonal yang bermakna .

 51 – 60 gejala Sedang (misalnya, mempengaruhi datar dan berbicara langsung, serangan panik sesekali) ATAU kesulitan moderat dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau sekolah (misalnya, beberapa teman, konflik dengan teman sebaya atau rekan kerja).

41 – 50 gejala Berat (misalnya, keinginan bunuh diri, ritual obsesional parah, mengutil sering) ATAU setiap gangguan yang serius dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau sekolah (misalnya, tidak ada teman, tidak mampu mempertahankan pekerjaan).

 31 – 40 kerusakan Beberapa dalam pengujian realitas atau komunikasi (misalnya, bicara pada waktu yang tidak logis, jelas, atau tidak relevan) ATAU penurunan besar di beberapa daerah, seperti pekerjaan atau sekolah, hubungan keluarga, penilaian, berpikir, atau suasana hati (misalnya, depresi menghindari teman pria, mengabaikan keluarga, dan tidak mampu bekerja; anak sering memukuli anak-anak muda, adalah pemberontak di rumah, dan gagal di sekolah).

 

21 – 30 Perilaku sangat dipengaruhi oleh delusi atau halusinasi ATAU gangguan yang serius, dalam komunikasi atau penilaian (misalnya, kadang-kadang membingungkan, bertindak terlalu tidak tepat, keasyikan bunuh diri) ATAU ketidakmampuan untuk berfungsi dalam hampir semua bidang (misalnya, tetap di tempat tidur sepanjang hari, tidak ada pekerjaan, rumah, atau teman)

    11 – 20 Beberapa bahaya menyakiti diri sendiri atau orang lain (misalnya, bunuh diri mencoba tanpa harapan yang jelas kematian; seringkali kekerasan; kegembiraan manik) ATAU sesekali gagal untuk menjaga kebersihan pribadi minimal (misalnya, kotorannya) ATAU penurunan kotor dalam komunikasi (misalnya, sebagian besar tidak koheren atau bisu).

 1 – 10 bahaya Persistent sangat menyakiti diri sendiri atau orang lain (misalnya, kekerasan berulang) ATAU ketidakmampuan gigih untuk menjaga kebersihan pribadi minim tindakan bunuh diri ATAU serius dengan harapan yang jelas tentang kematian.

0 Informasi yang inadekuat

 

 

 


 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: